tempototo Togel atau “Toto Gelap” bukan sekadar fenomena perjudian modern di Indonesia. Praktik ini memiliki akar sejarah yang panjang, bertransformasi dari kegiatan legal yang dikelola pemerintah hingga menjadi aktivitas bawah tanah yang kini merambah dunia digital.
1. Era Kolonial: Warisan Pemerintah Belanda
Praktik undian berhadiah pertama kali masuk ke Nusantara melalui pemerintah kolonial Belanda. Pada masa itu, pemerintah kolonial sering mengadakan Lotere Belanda untuk mengumpulkan dana pembangunan infrastruktur.
Aktivitas ini awalnya terbatas pada kalangan elit Eropa dan Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta). Namun, lambat laun daya tarik menebak angka mulai merambah ke masyarakat lokal karena menjanjikan keuntungan besar dengan modal kecil.
2. Pasca Kemerdekaan dan Era Orde Lama
Setelah Indonesia merdeka, praktik perjudian tidak langsung hilang. Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno, sikap pemerintah terhadap judi mulai bergejolak. Meski sempat dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, desakan kebutuhan ekonomi daerah membuat beberapa pemerintah daerah melegalkan undian.
Salah satu yang paling fenomenal adalah di Jakarta pada tahun 1960-an, di mana Gubernur Ali Sadikin melegalkan judi untuk mendanai pembangunan kota, termasuk rehabilitasi sekolah dan jalan raya.
3. Masa Keemasan di Era Orde Baru: SDSB dan Porkas
Era 1980-an hingga awal 1990-an merupakan periode di mana undian angka mencapai puncak popularitasnya secara resmi. Pemerintah saat itu meluncurkan program:
- Porkas (Pusat Olahraga Kesehatan): Terinspirasi dari sistem undian di Inggris untuk mendanai kegiatan olahraga.
- SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah): Bentuk evolusi dari Porkas yang skalanya mencakup seluruh nasional.
Meskipun dikemas dalam istilah “sumbangan”, pada praktiknya masyarakat memperlakukannya sebagai judi tebak angka. Gelombang protes dari tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan akhirnya memaksa pemerintah menghentikan SDSB pada tahun 1993.
4. Lahirnya Istilah “Togel” (Toto Gelap)
Setelah penutupan resmi segala bentuk undian berhadiah oleh pemerintah, aktivitas ini tidak lantas mati. Para bandar mulai menjalankan operasinya secara sembunyi-sembunyi atau “gelap”. Di sinilah istilah Togel (Toto Gelap) lahir.
Masyarakat mulai menggunakan hasil undian dari luar negeri sebagai acuan, dengan Singapura (Singapore Pools) sebagai kiblat utamanya. Transaksi dilakukan secara manual melalui kurir dan kertas coretan kecil.
5. Era Digital: Togel di Ujung Jari
Memasuki abad ke-21, teknologi internet mengubah wajah togel secara total. Transformasi digital membawa beberapa perubahan signifikan:
- Aksesibilitas: Pemain tidak perlu lagi mencari bandar darat; cukup melalui situs web atau aplikasi ponsel.
- Pasar Internasional: Togel kini tidak hanya mengacu pada satu pasar. Ada pasaran Hongkong, Sydney, hingga Macau yang tersedia 24 jam.
- Keamanan Identitas: Digitalisasi menawarkan anonimitas yang lebih tinggi dibandingkan transaksi tatap muka.
Kesimpulan
Perjalanan togel di Indonesia mencerminkan dinamika antara kebutuhan ekonomi, regulasi pemerintah, dan perkembangan teknologi. Dari sekadar alat pengumpul pajak di era Belanda hingga menjadi industri digital ilegal yang masif, togel tetap menjadi bagian dari sejarah sosial masyarakat Indonesia yang kompleks.